Kata Alatengae berasal dari bahasa Bugis, yang terdiri atas kata ala (mengambil) dan kata tênga(é) (tengah). Penggabungan kedua kata tersebut melahirkan makna "mengambil jalan tengah". Penamaan tersebut sangat beralasan bahwa setiap permasalahan ada solusinya melalui cara-cara terbaik tanpa merugikan kedua belah pihak seperti kegiatan tudang sipulung/appalili (bermusyawarah) untuk mufakat.

Desa Alatengae tumbuh dari nilai budaya Bugis yang kuat dalam musyawarah mufakat, terbentuk sebagai desa definitif sejak 1978, dan berkembang melalui komunitas yang aktif — terutama pemuda. Pertanian padi menjadi sektor utama, sementara berbagai acara sosial-kultural memperkuat identitas dan semangat kolektif masyarakat.